Yang Manfaat dan Mudarat dari Situs Pertemanan


Oleh Mediana Handayani,
dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama) – Jakarta

Hari gini siapa yang nggak kenal Facebook, Twitter atau situs pertemanan lain? Jangankan orang dewasa, anak-anak juga familiar dengan situs-situs itu.

Situs pertemanan saat ini begitu populer dan penggunanya sangat banyak. Saya pernah melihat di sebuah café, ada keluarga yang nampaknya asyik ber-Facebook-ria melalui telepon seluler. Si ayah asyik meng-update status. Si anak asyik meng-upload foto-foto dirinya. Sementara si ibu tersenyum-senyum sendiri membaca status teman-temannya. Seolah-olah setiap anggota keluarga asyik sendiri dengan Facebook.

Seperti penemuan-penemuan baru lainnya, situs pertemanan memiliki sisi positif dan negatif. Dengan kata lain, ada manfaat di satu sisi serta kemudaratan (ketidakmanfaatan) di sisi lain.

Pada awalnya situs pertemanan diciptakan untuk menyambungkan lagi orang-orang yang terpisah jarak agar mereka dapat berinteraksi (dengan kata lain menyambung tali silahturahmi). Itulah daya tarik situs jenis ini. Manfaat lainnya, jejaring sosial semacam ini mampu membantu kita berkenalan dengan orang lain yang kita anggap potensial untuk kehidupan kita.

Tapi manfaat apakah yang anak-anak peroleh dari situs pertemanan?

Manfaat yang paling gampang terlihat adalah bahwa anak dapat belajar mengenal teknologi secara menyenangkan. Di zaman modern ini penguasaan teknologi adalah suatu keharusan. Dengan demikian anak kita tak mengalami gagap teknologi.

Manfaat lainnya adalah anak dapat belajar mengekspresikan perasaannya. Dalam Facebook, misalnya, menulis status merupakan bentuk alternatif dari menulis buku harian. Anak dapat melatih dirinya untuk mencurahkan perasaannya, pikirannya atau apapun yang ingin diungkapkannya. Terlepas dari benar salahnya, ekspresif tidaknya, atau penting tidaknya yang ditulisnya, yang jelas anak kita belajar untuk berekspresi dan menunjukkannya pada orang lain. Sedikit banyak ini melatih kemampuannya untuk berani berpendapat.

Kalau anak menggunakan aturan berbahasa Inggris untuk situs pertemanannya, ada manfaat lain dari situs pertemanan ini. Anak dapat belajar berbahasa Inggris dengan cara learning by doing.

Situs pertemanan juga membantu anak untuk berinteraksi dengan orang lain. Pembelajaran interaksi ini diperoleh dengan mengomentari status, catatan, tautan, foto, atau apapun yang dikirimkan oleh teman mereka.

Lalu bagaimana dengan sisi negatif situs pertemanan yang harus kita waspadai?

Dalam situs pertemanan, seringkali ada iklan-iklan yang produknya tidak sesuai dengan usia anak. Bisa saja ketika anak sedang asyik menulis status, tiba-tiba muncul iklan produk orang dewasa.

Kita juga sering menganggap bahwa anak hanya meng-approve orang yang jelas-jelas adalah temannya di sekolah, di tempat les atau di lingkungan rumah. Jangan lupa, seringkali ada orang yang tanpa kaitan apapun meminta anak untuk meng-approve mereka menjadi teman. Dalam hal ini kita harus memberikan pengertian kepada anak untuk berhati-hati, jangan sembarangan menyetujui permintaan orang untuk menjadi teman hanya karena ingin memiliki banyak teman. Ini perlu dilakukan agar anak dapat terlindung dari kemungkinan buruk karena ketidaktahuannya terhadap karakter “si teman baru” itu. Ada baiknya kita mengingatkan bahwa apa yang tertulis di profil situs pertemanan bisa saja bohong atau fiktif.

Teknologi internet memungkinkan gambar, foto, dan film dikirim serta disebarkan secara mudah. Situs pertemanan yang memudahkan penggunanya untuk mengirim gambar, foto serta film akan sangat berguna jika memang materi tersebut adalah hal yang perlu untuk dilakukan. Anak akan sangat terbantu di dalam memperoleh informasi dari kemudahan itu. Tapi bagaimana jika yang mereka dapatkan adalah materi yang tidak pantas (misalnya bermuatan pornografi atau SARA)? Apakah kita dapat menjamin anak untuk mengklik gambar, foto, atau film itu atas nama keingintahuan? Rasanya ini bisa dijadikan sebagai salah satu alasan mengapa kita perlu waspada.

Potensi berbahaya lainnya adalah terputusnya relasi anak dengan realitas sosial. Kita tentu tak ingin anak memilih lebih asyik membaca status teman-temannya di Facebook dibandingkan mengobrol dengan orang tuanya di meja makan. Atau, kita tentu tidak mau anak menyendiri di pojok ruangan untuk meng-update status dan mengomentari status temannya dibandingkan mengobrol dengan suadara-saudaranya ketika arisan keluarga atau bahkan ketika di kelas saat pelajaran berlangsung.

Namun demikian, kita tidak usah bersikap paranoid terhadap situs pertemanan. Situs pertemanan ibarat pisau. Jika pisau digunakan sebagaimana mestinya (misalnya untuk memotong sayuran), maka ia akan menjadi hal yang bermanfaat dan tidak membahayakan. Lain ceritanya jika pisau digunakan untuk mengancam jiwa seseorang, pastilah akan sangat berbahaya.

Dengan demikian, menggunakan situs pertemanan dengan bijak menjadi syarat utama agar situs pertemanan tersebut tidak akan “mencelakai” anak kita. (NM)

http://www.kidia.org/news/tahun/2010/bulan/01/tanggal/19/id/146/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: